Showing posts with label Life. Show all posts
Showing posts with label Life. Show all posts

Monday, 17 September 2018

Life: Review Vendor Nikahan di Jogja (Dekor)



Baiklah, sekarang kita menuju ke vendor nomor dua ya, yaitu dekorasi. And yes, a repeated friendly reminder, pernikahan saya ini diselenggarakan tahun 2017 ya :D

Pengalaman saya mencari vendor dekorasi pernikahan sebenarnya ngga terlalu rumit, alhamdulillah waktu itu langsung 80% yakin sama salah satu vendor yang ketemunya lewat instagram. Jadi, alur berpikir saya waktu itu adalah:

1. Venue sudah yakin mau joglo-jogloan (lupa, waktu itu sudah DP di Ndalem Ngabean atau belum), tapi pokoknya udah yakin maunya joglo. Karena itu, dengan memilih venue Joglo yang sudah autentik, harapannya bisa menekan biaya dekorasi. Seperti yang saya tulis di post Review Venue Nikahan, bahwa salah satu alasan saya memilih joglo ya itu.. joglo mau didekor minimalis pun tetap terlihat bagus. Selainnya joglo, yang dekor minimalis juga oke menurut saya adalah kebun/area terbuka.  Kalo di kebun, acara malam, tinggal main di lighting, juga okeee banget. Ngga perlu lah bunga banyak-banyak. Tapi karena konsep awal udah joglo (dan harga venue area terbuka di Jogja cenderung lebih mahal) ya udah, stick to the plan! :D

2. Budget dekorasi yang sudah ditentukan di awal jadi panduan saat mencari vendor dan meneliti price list-nya. Budget saya sekian rupiah, kalau mau melebihi nominal itu, berarti mau ngga mau ada sektor lain yang harus dikorbankan).

3. Nah, sekarang gimana cara mencari vendor dekornya? Saat itu, saya mencari vendor via instagram. Sederhana banget, di kolom search, saya ketikkan: #dekorjogja. Langsung deh, akan muncul portofolio banyak vendor dekorasi di Jogja (dan juga luar Jogja). Sebenarnya masih banyak hashtag lain yang bisa digunakan. Hashtag apa saja? Ini berkembang saja secara organik sih. Saat saya melihat salah satu post yang relevan, lihat juga hashtag apa yang dia pakai. Nah, itu bisa jadi keyword pencarian di kolom search. Bisa juga dengan melihat caption posts dari akun wedding organizers. Biasanya mereka menyebutkan, vendor-vendor mana saja yang mereka pakai. Nanti tinggal lihat portofolio vendor tersebut di instagram dan juga review-review nya via google/blogpost dari orang-orang yang udah pernah pakai vendor tersebut, dan pastinya, tanya price list ke kontak person vendor tersebut.

4. Kalau beruntung, ada vendor yang sudah mempublish price list mereka di instagram post. Kalau sudah begitu, tinggal melihat portofolio mereka saja. Vendor yang kemarin saya pilih juga awal ketertarikan saya karena melihat price list mereka di instagram. Wah, masuk budget banget nih :))) Terus portofolionya not bad.. not bad at all malah. Akhirnya saya kontak untuk tanya-tanya lebih detail. Vendor apakah itu?

Sekar Kusuma Wedding Jogja

Kelebihan dan Kekurangan
 (+)
Value for money nya. Singkatnya, menurut saya harga mereka muraaaahhhhh banget dibandingkan sama hasil dekor mereka. Pokoknya melebihi ekspektasi (banget) dan banyak tamu dan keluarga yang bilang dekornya bagus.. juga lebih banyak lagi yang ngga menyangka harga yang saya bayar. Hahaha.

Kenapa saya bisa bilang murah? Karena saya sudah meminta price list dari puluhan vendor. Kalau di price list kan biasanya vendor ngasih spesifikasi juga, kita akan dapat apa saja. Pelaminan berapa meter, berapa buah pentokan, dll. Dibandingkan dengan vendor-vendor lain, dengan spesifikasi yang kurang lebih sama, Sekar Kusuma charged me almost 50% less.

Ya, memang pastinya ada harga ada rupa. Bisa jadi vendor lain dekornya lebih rapi, atau peralatannya lebih baru, atau dekorasinya lebih heboh dan elegan. Tapi selisih harganya hampir 50% dengan spesifikasi yang mirip-mirip banget. Panjang pelaminan sama, jumlah pentokan sama, dll. Kalau selisih harganya 15% atau 20% gitu, saya masih mikir-mikir lagi. Lha ini hampir 50%.

Sudah murah, dan saat hari H, seperti yang sudah saya ceritakan di atas, hasil dekornya melebihi ekspektasi. I felt like stealing.

(+)
Pengelolanya baik dan professional. Waktu itu saya tektokannya sama Mba Enny dari Sekar Kusuma. Dan hampir seluruh kesepakatan dan diskusi hanya via whatsapp, karena saya kerja di Jakarta kan. Saya cek dekorasi sekitar dua kali, kebetulan memang pas ada keperluan pulang Jogja. Yang pertama di UIN Sunan Kalijaga, yang kedua di Gedung LPP. Yang di UIN, agak ngga pas sebenernya karena konsep dekornya custom dan harga dekornya sampai puluhan juta rupiah. Pelaminannya aja gedeeee banget. Plus tambahan dekor di banyak spot. Singkat kata, berbeda dengan paket yang saya mau. Karena itulah, untuk cek lokasi kedua saya minta dikabarin sama Mba Enny kalau ada yang dekornya sepaket sama saya, ya yang di Gedung LPP itu. Di situ saya merasa puas. Eh, pas hari H, alhamdulillah ternyata lebih bagus :))

Pas semua tektokan udah cocok: layout, model pelaminan, nuansa warna bunga, warna karpet jalan, model pentokan, dll yaudah hampir ngga ada komunikasi lagi sih. Ngecekin ke vendor persiapan sampai mana, juga engga. Tau-tau pas hari H, subuh-subuh dateng ke Ndalem Ngabean siap-siap mau rias, dekorasi udah jadi :D

(-)
Nah, sayangnya Sekar Kusuma ini agak susah dikepoin via internet. Akun instagram mereka kesannya seadanya, dan kalau digoogling ngga ketemu juga review-review/portofolio yang lain. Untuk minta contoh model pelaminan pun waktu itu saya minta langsung ke Mba Enny, karena di instagramnya kurang lengkap. Saya aja dulu merasa kind of lucky bisa nemu mereka di instagram. Soalnya ya itu, agak kurang di-currate kan IG mereka. (IG: sekarkusuma_weddingjogja).

(-)
Untuk tema-tema seperti rustic, saya kurang tau apakah mereka bisa do it as good and has great price just like other themes. Kalau untuk tema yang saya mau (klasik, pelaminan gebyok coklat) itu sudah expert lah ya. Tetapi untuk tema yang lebih "kekinian", saya belum bisa ngasih review. Kembali lagi, karena portofolio di akun instagram/media lain masih terasa kurang banget jadi netijen masih kesulitan menilai :))

Jadi bisa disimpulkan:
Saya merekomendasikan Sekar Kusuma Wedding Jogja untuk dekorasi dengan tema klasik dan untuk kamu yang mencari vendor dekorasi dengan value for money tinggi but still on budget. Kalau bisa diranking, Sekar Kusuma ini masuk top 3, atau bahkan top 2 vendor dengan value for money terbaik yang saya pakai saat nikahan dulu.

 














Sunday, 25 February 2018

Life: Review Tempat Nikahan di Jogja


Oke.
Jadi, kenapa review venue dulu? Karena dulu yang saya cari pertama adalah venue :")
Venue itu krusial, terutama di Yogyakarta. Gedung pertemuan di Yogyakarta meskipun jumlahnya nggak sedikit-sedikit amat, tapi bisa dibilang terbatas dan waiting list-nya panjang. Jadi, saya prioritaskan untuk dapat gedung dulu, karena, well, supaya tenang nikahan udah ada tempatnya :)

Venue nikahan di Jogja itu banyak macamnya, dari gedung pertemuan, hotel, joglo, villa, kebun, maupun restoran. Tinggal disesuaikan aja sama konsep dan anggaran.

Berikut pertimbangan saya kemarin dalam milih venue:
1. Tempat Parkir. Tempat parkir harus memadai, saya ngga ingin tamu susah cari parkir atau bahkan sampai menutup jalan umum.
2. Akses lokasi. Biasanya milih tempat yang dekat tempat tinggal kita atau di tengah kota supaya lokasi terjangkau bagi semua tamu.
3. Tempatnya itu sendiri. Kondisi venue, daya tampung tamu, fasilitasnya, dan tentunya harga.

Waktu itu kita lebih prefer joglo-jogloan gitu sih, dibanding gedung pertemuan ataupun modern garden/pool party. He's truly javanese at heart, mind, and body. I love Javanese nuances. So, Joglo it is!

Here's the pros and cons of Joglo.

Pros.

1. Authenticity of javanese feeling-nya lebih dapet dibanding gedung pertemuan (of course).
2. Joglo ngga didekor pun juga bisa oke banget dibandingkan gedung pertemuan yang ngga didekor. Bisa irit budget dekor, you see---

Cons.

1. Karena semi outdoor, jadi takut hujan.
2. Dan takut panas.
3. Biasanya joglo kecil-kecil, takut tempatnya ngga cukup untuk menampung tamu.

Lalu gimana solusi untuk cons-nya?
1. Cari tanggal nikahan di musim kemarau :D
2. Pake AC di pelaminan dan cooler di seluruh sudut joglo. SIP! :D
3. Cari joglo yang agak besar. :)))

Wakakak... dan saya minta maaaaf banget sebelumnya nih. Saya memang sempet browsing tentang beberapa joglo/pendopo di Yogyakarta, sih. But then I found the joglo/pendopo yang saya suka. Kemudian saya telpon tanya price list and availibility, kok ndilalah cocok semua. Yaudah, saya ngga menjelajah ke tempat lain. Hampir ngga pernah survei ke tempat lainnya, jadi ngga bisa ngasih reviu dan cerita untuk venue-venue yang lain. Cuma bisa cerita tentang venue yang ini aja.

And here's the venue.

Ndalem Ngabean, Yogyakarta.

Lokasi.
Di Jalan Ngadisuryan No. 6 Patehan, Kraton, Kota Yogyakarta, DIY. Ndalem Ngabean basically berlokasi di tengah-tengah Yogyakarta banget karena dia terletak di kecamatan Kraton dan hanya bertempat di sebelah Alun-Alun Kidul. (OOT, sekilas info, jadi kalau kamu pakai gedung ini, otomatis kamu harus mendaftarkan pernikahanmu di KUA Kecamatan Kraton, ya).

Daya Tampung
Berdasarkan keterangan dari pengelolanya, Ndalem Ngabean pernah held nikahan 1600 tamu dan masih oke. Tamu saya ngga sampai 1600, so it's all safe.

Tempat Parkir
You see, Ndalem ini punya tempat parkir, sih, tapi minim banget. Masih belum cukup untuk menampung kendaraan seluruh tamu dengan lega. Tapi, karena letak Ndalem Ngabean ini ada di ujung jalan gitu (buntuin jalan), jadi sepanjang jalan Ngadisuryan bisa banget dibuat parkir tamu. Nutup jalan? Enggak, kok. Penduduk sekitar juga udah terbiasa dan justru dari mereka yang menyediakan tempat parkir dan jadi tukang parkirnya. Kalau masih kurang lagi, bisa di-manage untuk parkirnya di Alun-alun Kidul (sebelah Ndalem Ngabean) dan tamu akan disediakan lots of becak untuk transport ke Ndalem Ngabeannya. Lucu banget, ya.

Harga
Untuk harga, bisa nanya personal ke saya aja, ya. Bisa kirim email atau bilang di kolom comment. Soalnya saya nggak enak mencantumkan harga di blog post :D
Atau kalau mau, malah saya kasih kontak Ndalem Ngabeannya aja biar kamu dapat price list update, karena tentu harga yang saya dapat kemarin adalah harga tahun 2017, ya :)

Fasilitas
Fasilitas terbagi jadi dua, yaitu fasilitas yang sudah termasuk dalam harga sewanya, dan fasilitas tambahan yang disediakan oleh pengelola dan sifatnya opsional. Kalau kamu mau/butuh, bisa menyewa fasilitas-fasilitas tambahan itu. Kalau ngga mau ya ngga usah ngga apa-apa :)

Fasilitas yang sudah include dari persewaan Pendopo Ndalem Ngabean:
1. Pendopo dan Pringgitan
2. Ruang rias (AC)
3. 2 set meja marmer
4. 50 kursi hotel non-seat cover
5. 150 kursi lipat
6. 2 meja buku tamu
7. Rumah Kudus untuk ijab.

Fasilitas tambahan (masing-masing ada price listnya)
1. Standard Room atau Family Room (Untuk yang ingin menginap di area Ndalem Ngabean)
2. Soundsystem standard
3. Genset
4. Cooler
5. AC Pelaminan
6. Kursi Lipat
7. Kursi Hotel
8. Cover Kursi
9. Meja Marmer
10. Kursi Raffles
11. Gamelan (Karawitan)
12. Tenda VIP (per meter persegi)
13. Dekorasi Pelaminan

Untuk tambahan tenda, jadi ceritanya gini. Di sayap kanan pendopo, ada satu petak yang sudah dipaving di antara halaman berumput unyu. Sengaja dibuat untuk tamu undangan apabila overflowing atau buat tamu VIP, bebas lah. Di situ juga bisa menjadi sisi katering plus ditaro kursi-kursi untuk duduk makan. Nah, kalau mau mempergunakan spot paving itu, you sure need tents untuk menghalau sinar matahari, karena nggak kejangkau sama joglo. Karena itulah mereka menawarkan tambahan tenda.

Nah, berdasarkan beberapa deskripsi di atas, bisa disimpulkan:
1. Ndalem Ngabean saya rekomendasikan. Value for money-nya oke. Fasilitas tambahan harga-harganya masih reasonable, dan juga ngga ada kewajiban pakai dekor atau katering dari mereka. Pengelolanya juga professional.
2. Plusnya lagi, kamu diperbolehkan untuk eksplor satu kawasan Ndalem Ngabean pada saat hari pernikahanmu. FYI, satu kawasan Ndalem Ngabean itu banyak banget spot cantik untuk foto-foto. Ngga cuma joglo, ada juga air mancur, selasar, kebun, dan lain-lain. Asik banget untuk foto nikahan. 
3. But Personally I think untuk tidak melakukan acara kawinan di Ndalem Ngabean pada malam hari. Meskipun lampu-lampu di joglo akan gegap gempita dan asik banget, tapi tau sendiri kan keadannya alun-alun kidul on weekend night gimana, sist. Penuh macet ruwet dengan kendaraan dan odong-odong lampu neon warna-warni. Kasian tamunya, mereka akan perjuangan banget menuju Ndalem Ngabean. Pun alun-alunnya jadi ngga bisa dipakai parkir. Belum lagi soundsystem odong-odong yang menggelegar non-stop muter lagu patah hati. Gimana kalau suaranya sampai ke venue? *menangys

Jadi, sekian reviu saya untuk Ndalem Ngabean. Semoga bermanfaat untuk kamu calon pengantin yang sedang cari-cari venue di Yogyakarta. Kalau ada pertanyaan, feel free untuk comment di bawah atau email. Thankies! :)


 Dalemnya Rumah Kudus, Ijab Qabul kita

 Lol itu siapa lagi
 Lihat background-nya aja, ya. Ngga usah lihat foto awkward-nya (Diteriakin fotografer, "Mepet lagi, Mba, nempel lagi!"


 Spot paving di sisi kanan Joglo yang aku ceritain

 Selasar di area Ndalem Ngabean

 Area air mancur

 via foody.id


Sunday, 6 August 2017

Life: Pengalaman Jadi Mahasiswa di Ekstensi FEB UI


My doubts and principles tentang perkuliahan di post sebelumnya murni subjektif. Tapi post yang ini insya Allah agak objektif karena ada objeknya yaah.

Jadi, apa pendapat saya tentang kampus Ekstensi FEB UI? Ini beberapa reviewnya, ya. Dan sungguh maaf buat semua yang belum mengenal saya, I'm the queen of everything random. Kemungkinan review ini juga bakal sangat ngga jelas. Tapi semoga masih informatif, ya.

(saya masuk Esktensi UI tahun 2016, jadi mungkin masih relevan di timeline yang ngga jauh-jauh dari tahun tersebut)

1. Well, my campus is not the prettiest, but it's so gorg in a exotic creepy way. Kampus Ekstensi UI terdapat di dua tempat, yaitu di Depok dan Salemba. Saya memilih kampus UI di Salemba karena lebih dekat dengan kantor. Di UI Salemba ini terdapat program/jurusan lain juga selain ekstensi, di antaranya ada pasca sarjana UI dan FKUI. Jadi setiap berangkat kuliah, setelah masuk kompleks kampus, saya harus melewati Rumah Duka/Tempat Penurunan Jenazah karena kampus saya masih satu kompleks dengan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan Fakultas Kedokteran UI. Padahal saya kuliah malam terus, dari jam 19.00 sampai 21.30. Saya bahkan pernah kelar kuliah Pengantar Bisnis jam 22.30. Ditambah pula bangunannya seperti kastil angker di Braubach, Jerman. Yah, pokoknya kalau jalan sendirian malam-malam gitu biasanya sih saya takut. 

2. Officially, kuliah itu cuma hari Senin sampai Jumat saja. Tapi prakteknya, saya lumayan sering juga masuk kuliah hari Sabtu karena ada asistensi Pengantar Akuntansi dan lab Statistika Ekonomi dan Bisnis (Statek) untuk semester satu dan bahkan masuk kuliah setiap hari Sabtu di semester dua.

3. Semester kemarin dapat dosen yang lumayan enak semuanya. Nah, di sini ini saya recommend banget UI buat kamu yang niatnya beneran mau belajar. Meskipun begitu, banyak testimoni dari senior, bilang kalau kuliah di ekstensi UI itu lama, banyak tugas, dan dapet nilainya susah. Jadi buat yang niat kuliahnya biar dapat gelar aja, saya sarankan pikir-pikir lagi soalnya harus di-nurture banget kuliahnya.

4. Nah, kalau kata saya, dari segi lama waktu kuliahnya, itu bener. Karena kuliah ekstensi di UI itu standarnya 2,5 - 3 tahun. Misalnya kamu DIII Pariwisata nglanjutin ke S1 Manajemen, maka kamu sudah diplot dari UI untuk selesai dalam jangka waktu 3 tahun, karena mata kuliah yang bisa ditransfer lebih sedikit. Kalau kamu DIII Akuntansi ke S1 Akuntansi, standar di UI adalah 2,5 tahun. Dan itu baru standarnya, belum termasuk kalau ada mata kuliah yang nggak lulus lho. Padahal di kampus lain kuliah ekstensi standarnya 2 tahun. Bahkan ada yang 1,5 tahun sudah bisa selesai. Jadi, ekstensi di UI memang makan waktu lebih lama.

5. Dari segi banyak tugasnya, mungkin hanya 70% benar. Kalau dibandingkan dengan kampus lain, bisa jadi memang tugasnya jadi tampak segambreng, tapi alhamdulillah masih bisa ke-cover ngerjain tugas di sela-sela bekerja.

6. Dari segi dapat nilainya susah, ini bener banget, haha. Kalau perihal ini banyak faktor juga sih kalau saya bilang. Dari faktor dosen yang memang ngasih ilmunya luar biasa tapi strict di nilai, faktor saya sambil bekerja jadi nggak bisa full belajar, faktor luck juga ada. Soalnya kayaknya kuliahnya gampang dan masuk banget gitu ilmunya, tapi begitu ujian satu kelas nilainya 30, 40, gitu hahahahaha.

7. Jangka waktu kuliah yang lama ini berimbas ke biaya. Uang pangkal di ekstensi FEUI tarifnya adalah Rp12.500.000 dan bayaran tiap semester/BOP saya adalah Rp10.000.000 (tahun 2016-2017), Semakin banyak semester yang kamu ambil, semakin banyak juga biaya yang harus kamu keluarin.

8. Setiap mata kuliah memiliki silabus, yang memuat semua informasi dan "kontrak" terkait mata kuliah tersebut. Informasinya antara lain tentang buku apa yang digunakan di mata kuliah tersebut, persentase nilai tugas, UTS, UAS, kuis, dll, jadwal pertemuan dan bab yang dibahas di pertemuan tersebut, dan masih banyak lagi. Jadwal perkuliahannya pun jelas. Jadi you're able to expect apa sih yang akan terjadi satu semester ini. Meskipun sebenernya semua kembali lagi kepada dosen, sih.

9. Untuk buku saya banyak beli di tokopedia dan bukalapak sih. Karena nggak ada waktu buat hunting buku offline. Selain itu juga ada ebook yang dishare teman-teman, jadi bisa lebih menghemat juga (apalagi yang dapat hibahan ipad dari pacar-sekarang-suami kayak saya, haha). Kalkulator, ini penting juga. Saya satu semester sudah habis dua kalkulator, karena yang pertama, yang beli di bhinneka.com saya ilangin. Selanjutnya nyoba beli di Citra Calculator di Senen Jaya ternyata lebih murah 10-20 ribu. Yang ternyata toko itu juga punya lapak di tokopedia. 

10. Berikut beberapa alamat website yang membantu saya selama perkuliahan (kalau ada tambahan silakan share di kolom komentar, ya)
a. http://mss-febui.com/millions/
Ini adalah website tempat mencari soal-soal ujian tahun sebelumnya. Bermanfaat banget untuk belajar UTS dan UAS karena soal-soal tahun lalu biasanya masih ada kesamaan tipe soal dengan soal tahun ini.
b. https://management06.wordpress.com/
Blog ini bermanfaat buat kamu yang ingin kepoin karakter dosen kamu. Kamu bisa search nama dosen yang diinginkan, kemudian di comment sectionnya bisa dibaca testimoni mantan mahasiswa dosen tersebut. Jadi sebelum pilih dosen untuk semester mendatang, kepoin dulu seperti apa karakter dosen tersebut. Jangan sampai pilih dosen yang pelit nilai atau galak :p
c. https://academic.ui.ac.id
Ini standar sih, websitenya mahasiswa UI. Semua informasi yang kamu butuhkan ada di situ. Nilai, pembayaran kuliah, jadwal kuliah, dan lain-lain.

Nah, kira-kira itu sih my rambling about my exotic creepy campus. Kalo ada yang mau ditanyain, comment boleh tapi lebih cepet reach me via social media. See you!










Wednesday, 19 July 2017

Life: My Campus is Not The Prettiest...


Post ini akan berisi tentang cerita saya kuliah lagi. Post ini sebenarnya lebih akan ditujukan ke saya sendiri sih, sebagai pengingat, supaya saya selalu ingat kronologis ceritanya (soalnya saya pelupa berat) so hopefully future me won't take it for granted.

Beberapa waktu lalu saya sempat mengalami kegalauan akut karena saya ingin kuliah lagi tapi belum dapat izin dari kantor. Kuliah lagi itu such a big deal for me, salah satunya adalah karena saat itu adalah tahun 2016, yang berarti saya sudah do nothing selama 4 tahun. Meskipun ya saya memang bekerja selama tahun-tahun tersebut, which not necessarily do nothing as I said before sih.

Ada beberapa pertimbangan mengapa saya daftar ke universitas untuk kuliah lagi padahal kantor belum izinkan. Pertamanya, saya gagal paham sama peraturan kantor yang baru ngasih izin untuk kuliah lagi setelah total 3 tahun bekerja. Kalau belum kerja 3 tahun, kuliah saya nggak bakal diakui kantor. Karir bakal susah berkembang, bahkan mungkin stuck. Karena jenjang pendidikan masih memegang peran penting di struktur organisasi kantor. Jadi kalo nggak upgrade sekolahan agak susah mau promosi gitu deh.

Tahun kerja saya adalah 2,5. I know, tinggal sedikit lagi. Cukup enam bulan lagi maka saya sudah bisa kuliah sekaligus comply dengan peraturan kantor. Tapi setelah beberapa kontemplasi, saya sadar ini bukan masalah waktu.

Saya ingin membuktikan--pada diri saya sendiri--bahwa tetap saya yang in charge terhadap diri saya. Ini hidup saya, keputusan saya. Saya yang memutuskan apa yang mau saya ikuti dan apa yang tidak. Dalam hal ini, saya memutuskan tidak mengikuti peraturan kantor. Saya nggak mau karena kantor nggak bolehin kuliah, saya jadi terpaksa nurut. Kalaupun saya nurut, itu harus karena keputusan saya. Saya yang memutuskan untuk nurut dengan keputusan kantor. For every reason. Jadi kira-kira, apapun kondisi dan keadaannya, I want to be the decision maker of my own life. Mau terus saya hajar, ataupun saya nurut. Kira-kira gitu.

Saat itu, yang sedang dibuka pendaftarannya adalah Universitas Indonesia. Letak UI pusat di Depok memang jauh dari kantor saya di Jakarta Pusat. Tapi, UI punya kampus untuk pascasarjana dan ekstensi Fakultas Ekonomi di daerah Salemba. Cucok banget sama saya yang backgroundnya keuangan dan Salemba itu deket banget sama kantor saya. Yaaa, 20 - 40 menit kalau macet lah dan bisa 10 menit aja kalau lancar. 

Later that week, di bulan Juli, saya untuk pertama kalinya membuat akun di penerimaan.ui.ac.id. Singkat cerita, saya tes SIMAK UI di Depok tanggal 31 Juli, kemudian pengumuman penerimaan tanggal 15 Agustus. Shout out to my boyfriend (saat post ini dibuat masih boyfriend, sekarang sudah jadi suami hehe), Aditya, yang sangat suportif pada minggu-minggu belajar menjelang ujian. Pas weekend ujian aja bahkan dianter dan ditungguin dari pagi sampai sore.

Alhamdulillah saya diterima. Resmi sudah menjadi mahasiswa program ekstensi Fakultas Ekonomi UI. Mahasiswa illegal (dari sudut pandang kantor saya), dan seorang pegawai penuh waktu. Saya mau mengetikkan kalimat klise ah; dan kehidupan baru sebagai mahasiswa pun dimulai...

Jadi.. my campus is not the prettiest. Itu kompleks bangunannya asli singup, kurang terawat, dan horror. Perjalanan bisa ngampus pun bumpy :" tapi begitu kamu memasuki kelas yang sederhana itu, duduk di kursi single-bermeja-ala-mahasiswa itu, mendengarkan dosen bertutur, and your mind started to blow... semua kesulitan yang kamu hadapi jadi ngga ada artinya karena kamu sungguh bahagia.







Saturday, 12 March 2016

Stroll: We Flew Out Of Jakarta! (Absurd Adventure Part 1)


So, everyone. Aku mau cerita dikit tentang cuti aku beberapa minggu lalu. Aku ambil cuti lebih dari tiga hari di Bulan Februari dan itu agak nggak masuk akal. Pertama, karena cuti aku sedikit. Cuma dapat 8 – 12 tiap tahunnya, jadi mesti berhemat banget. Alasannya mostly karena udah bikin janji beberapa bulan sebelumnya untuk ninggalin kantor pada tanggal-tanggal tersebut. Beberapa temen yang tau at the end of the time, kebanyakan komentar ih kok dadakan banget? Atau, ih kok nggak ajak-ajak? Karena everyone always love the idea of leaving the office~

Sebenernya rencana aku itu nggak dadakan, sih. At all. Semua bermula saat perjalanan pulang dari makan siang di Natrabu. Kebetulan kantor lagi ngadain acara makan bareng. Acara perpisahan Kepala Pusat yang lama atau apa ya. Aku baliknya ngikut mobil Bu Mulat, Kabid aku yang dulu. Semobil itu ada Mas Billy, Mba Veny, dan Mba Orit. Nah, di situlah rencana cuti terbentuk.

At the end of the day, yang ikutan jadinya Mba Orit (sama Suami dan Mozi kyaaa Moziiii), Mas Billy, Hans, Mba Venny, and me. Nggak banyak pembicaraan juga sih terkait ini. Kita hunting transportasi ya hunting aja di komputer Mba Orit. Ngurus surat-surat termasuk surat izin ya langsung cus aja. Makanya tampak ujug-ujug pergi karena preparationnya nggak heboh. Palingan pas akhir-akhir aja tuh yang agak ribet.

Fast forward, kita pergi tanggal 27 Februari sampai tanggal 03 Maret. Kita perginya naik pesawat karena kita ingin pergi sejauh mungkin dari Jakarta (well, me at least). Pesawatnya pagi banget, jam 5 pagi aku udah harus berangkat dari Cempaka Baru ke Soekarno Hatta. Sebagai sleepyhead, kayaknya kurang afdol kalau nggak telat bangun. Bener aja, jam 5 lebih aku baru bangun. Itupun udah ditelpon berkali-kali. Secepat kilat mandi dan ganti baju, lalu masuk-masukin bawaan yang masih ada kececer, sambil komat kamit doa supaya nggak ada yang ketinggalan. Taksi pribadi aku udah nunggu di depan. Sopirnya udah berdiri anteng ngeliatin aku grusah grusuh buka gerbang. Santai aja dia ngomong, “I knew it (kamu bakal telat bangun).” Well, I... what can I do? Aku cuma bisa ngelempar dua tas gede gede yang lagi kutenteng kan? :3

Sampai di Bandara, sudah ada Mba Veny yang menunggu dengan kecehnya pakai baju warna ijo, sepatu boots coklat, dan coat warna merah. Kayak pohon natal. Perjalanan kita diawali dengan naik pesawat dulu selama dua jam ke Kuala Lumpur. Transit di KLIA, baru kita lanjut pesawat menuju entrance point tujuan. Dan itu butuh waktu sekitar delapan jam lagi. Sebelumnya kita sempat khawatir, karena ini adalah penerbangan siang hari. Jadi takut cengok gitu di pesawat. Delapan tambah dua jam mau ngapain. Tapi untungnya, sebelum berangkat aku sempat dipinjemin buku Bound by Okky Madasari, jadi langsung aja habis 75% buku dan hanya 10% sisa cengok. 15% lainnya buat ribet naro barang bawaan, boci, dan makan.

Kira-kira jam 10 malam waktu setempat, akhirnya kita sampai di tujuan. Semua lancar cuma ada sedikit drama si Mas Billy ketahan sebentar di Imigrasi. Haha. But most of all, we were happy. That was our first time step our feet on the promised land. Halah halah. The land full of wound but bounce back like there was nothing happened. We arrived safe and sound in Japan.

My only sheet of Ringgit to buy lunch in KL

My BK lunch


Begitu sampai ke tempat yang bersinyal. Don't disturb, We're saving the world!





Our Absurd Adventure will continue to the the next part.

Tuesday, 8 March 2016

Life: A Blunt Honesty

Awalnya aku mau bikin blog post untuk ikutan blog competition gitu, udah beli produknya, foto foto heboh, nulis panjang lebar, sekitar satu jam sebelum batas akhir pengiriman baru sadar kalau aku salah beli line produknya, hahahahahaha. Mereknya sih bener, tetapi aku harusnya ngereview produk dengan tagline Smooth and Glow, akunya malah beli yang Sweet.

Ya Allah.

Gitu lho. Sering banget aku ngelakuin kesalahan bego kayak begini akhir-akhir ini. And by akhir akhir ini I mean dua tahun belakangan. Haha. Astaghfirulloh.

Anyway, dua hari ini aku lagi ketagihan membaca blognya Mbak Nina Moran, co-foundernya majalah GoGirl! Aku suka sekali, banget banget banget, sama blognya beliau. Simply because of her blunt honesty. Mbak Nina menulis gimana ceritanya beliau terjebak utang pajak sehingga harus menemui Kakanwil Pajak Jakarta Selatan untuk minta keringanan. Beliau cerita gimana uang di rekeningnya tinggal Rp200.000-an dan gimana beliau harus terancam ngejual rumah dan mobilnya untuk membayar semua utang pajak itu.

Untuk sekelas Mbak Nina, yang namanya lumayan sering aku dengar di sana-sini, agak aneh rasanya dengar beliau punya financial problem. Pun beliau menceritakannya tanpa malu-malu. Menceritakan kegagalan, rasa malu, kekecewaan, atau masalah lain yang sangat dalam ke orang lain rasa rasanya susah kita lakukan. Jangankan untuk dituliskan di blog yang pembacanya orang umum yang kita nggak bisa kontrol, seringkali cerita-cerita hal tersebut ke orang terdekat aja susahnya minta ampun.

Gengsi, nggak tau gimana cara ceritanya, nggak cukup percaya, atau bahkan alasan punya dasar personality introvert dan banyak hal lainnya yang bikin kita enggan cerita.

Tapi, permasalahannya, apakah kita patut disalahkan karena keengganan kita bercerita, sama seperti apakah patut disalahkan juga orang-orang di path yang sukanya over-sharing terlalu banyak bercerita itu?

I'm human, I have gazillion of imperfections, salah satunya termasuk imperfections of inability to tell you stories. I'm human too. Sometimes, I can't tell people anything just because I don't know how. This is truly my blunt honesty. I. Don't. Know. How.

Bukannya aku nggak punya cerita sama sekali. Banyak banget stok cerita aku. Bukan pula aku nggak jujur, punya cerita tapi berusaha ditutupi dari orang terdekat. Kadang orang terdekat jadi suka merasa sedih dan nggak dipercaya gitu sih, because I rarely sharing stories. It's funny how I used to be so open, huft. Aku nggak tau gimana solusinya, ini masih menjadi masalah sih. Untuk sekarang, yang bisa kulakukan is only saying I'm sorry. I'm sorry.

Saturday, 9 May 2015

So, here's a story about some people in my life



Saya bukan tipe sahabat yang bisa dihubungi 24/7. Eh, ralat. Saya bukan tipe sahabat yang mau dihubungi 24/7. 

Kita nggak sedang ngomongin keadaan kahar, lho ya. Itu beda topik. I’m an ISTP, any critical situation is my vibe. Kita sedang ngomongin masalah always-connected bestfriends.

Always-connected bestfriends, sepemahaman saya: teman yang selalu keep in touch setiap hari. Ngobrol langsung setiap hari, atau lewat telepon dan text messages kalau berjauhan. 

Selalu up to date tentang sahabatnya, bahkan sampai ke hal-hal terkecil: tadi dimarahin bos, tadi makan nggak habis, tadi baca dua halaman buku Game of Thrones.

I’m not always connect with human world. Jadi I can’t always connect with my bestfriends. Naturally, orang-orang yang ada di ring terdalam kehidupan saya, adalah orang-orang sudah terbukti bertahun-tahun punya gaya hidup seperti ini, atau bisa menerima gaya hidup seperti ini.

It leads to Ira dan Kingkin, teman-teman kuliah saya. Sewaktu kuliah, saya sering main sama Ira sama Kingkin. Iyalah. Saya sama Ira sekelas dua tahun, sekosan dua tahun. Sama Kingkin sekelas setahun. 

Tapi setelah bekerja, Ira bekerja di Sidoarjo dan saya di Jakarta. Kita jarang banget berhubungan. Jarang sekali whatsapp, nggak pernah telepon. Kingkin kerja di Jakarta, jadi kita sesekali main bareng. Tapi bicara tiap hari? No.

Amazingly, saya merasa nyaman cerita tentang hal-hal yang bahkan orang yang ketemu sama saya tiap hari aja nggak tahu. 

Nggak cuma tentang rahasia, apa saja kita bahas. Pengalaman terkahir jalan sama Kingkin, kita membahas cara lapor SPT Tahunan pakai e-filling! And that conversation lasted for almost half an hour.

Kemarin Mayday, saya janjian sama Ira dan Kingkin di Mall Taman Anggrek. Ira sedang ada di Jakarta, sedang DTSD. Janjian di Mall, as cheesy as it sounds. 

Kita makan sore di Marugame Udon (karena saya dan Ira belum makan), photobox di Origami (idenya Kingkin), kemudian lanjut makan lagi di McD untuk bertukar cerita.

A lot to catch up, dan this is the fun part: kita langsung dapat banyak cerita—the whole story. 

Kita sedikit reminiscing masa lalu (kabar kosan tercinta), cerita kalau sudah putus (kapan jadiannya?), cerita tentang pekerjaan (habis mutasi), tentang teman-teman di kantor dan di kantor sebelah, dan lain lain dan lain lain.

Ini masalah selera sih, saya rasa. Saya tahu banyak orang yang lebih suka cerita terkini daripada yang sudah terjadi beberapa minggu lalu. Tapi we like it this way.

Saya ketemu Ira hanya dua kali selama satu setengah tahun terakhir. Dari dua pertemuan itu, bisa saya katakan, quality over quantity is exist.






 On Tama Udon. Udon paling enak di Marugame



Saat Ira sama saya bercakap non-stop, Kingkin belajar karena hari Seninnya mau ujian PPh dan dosennya killer


Because best friends help you upgrade when you've settled for a life too small. Dr. Cara Baker said that. And this is how we upgrade each other's life. Not everyday monitoring, but once at a time.

Back to Top